Pajak Fashion Show Internasional di Jakarta

https://idtax.or.id Pajak Fashion Show Internasional di Jakarta, Fashion Show Bukan Lagi Sekadar Panggung

Jakarta makin sering jadi tuan rumah fashion show skala internasional. Dari Jakarta Fashion Week, brand global collab dengan desainer lokal, sampai luxury fashion show yang digelar di hotel bintang lima.

Event ini nggak cuma soal glamor, catwalk, dan lampu sorot. Di baliknya ada duit besar. Sponsorship, penjualan tiket, endorsement brand, bahkan penjualan koleksi langsung. Semua ini ujung-ujungnya kena radar pajak.

Pertanyaannya: apakah fashion show di Jakarta udah punya skema pajak jelas, atau masih abu-abu?

Struktur Pajak di Event Fashion

Fashion show bisa dilihat dari dua sisi: hiburan dan bisnis.

  • Kalau dilihat sebagai hiburan (penjualan tiket), kena pajak hiburan daerah (10–15%).
  • Kalau dilihat sebagai bisnis (jual koleksi, kontrak sponsor), kena PPN dan PPh.
  • Kalau ada artis atau model asing, ada tambahan pajak cross-border (withholding tax).

Di atas kertas jelas. Tapi di lapangan, ribetnya bukan main.

Biaya Produksi Fashion Show

Ngadain fashion show bukan main murah.

  • Sewa venue bisa ratusan juta.
  • Bayar model internasional, stylist, lighting, stage.
  • Koleksi fashion sendiri bisa bernilai miliaran.

Dengan biaya segede itu, pajak bisa jadi faktor penentu. Salah strategi, bisa tekor.

Kasus Lapangan

  1. Jakarta Fashion Week. Event tahunan besar, dengan ratusan desainer. Ada sponsor, ada tiket, ada transaksi bisnis. Pajaknya lumayan kompleks, karena harus cover PPh, PPN, sampai pajak hiburan.
  2. Luxury Brand Private Show. Brand global kayak Louis Vuitton atau Dior kadang bikin show private. Pajak lebih tricky, karena melibatkan perusahaan asing.
  3. Indie Fashion Show. Digelar komunitas, tiket murah, sponsor kecil. Pajak? Kadang nggak jelas, bahkan banyak yang nggak ngurus sama sekali.

Trend Global: Fashion & Pajak

  • Prancis: Paris Fashion Week udah jadi industri global. Pajak diatur ketat, tapi ada insentif untuk desainer lokal.
  • Italia: Fashion show diperlakukan sebagai bagian dari industri kreatif strategis. Pajak ada, tapi mereka dapet subsidi.
  • Singapura: Fashion event dikenakan pajak hiburan, tapi pemerintah juga kasih dana hibah buat dukung brand lokal.

Indonesia masih setengah hati. Ada pajak hiburan, tapi insentif buat fashion lokal minim.

Model Asing & Pajak Cross-border

Banyak fashion show di Jakarta pakai model internasional. Honor mereka dibayar dolar. Secara hukum, honor model asing kena withholding tax (PPh 26). Tapi praktiknya, sering langsung dibayar cash atau lewat agen luar negeri. Negara jadi kehilangan potensi pajak.

Sponsor & Pajak

Fashion show nggak akan jalan tanpa sponsor. Mulai dari brand minuman, beauty, sampai bank. Sponsor biasanya bayar ratusan juta – miliaran. Uang ini harusnya kena PPh (bagi penyelenggara) dan PPN (atas jasa sponsorship).

Masalahnya, banyak deal sponsor yang sifatnya barter (produk ditukar exposure). Nah, barter juga sebenarnya objek pajak. Tapi sering nggak dilaporin.

baca juga

Penjualan Koleksi & Pajak

Fashion show bukan cuma pamer, tapi juga jualan. Koleksi yang dipamerkan bisa langsung dijual ke pembeli VIP. Itu harusnya kena PPN. Tapi kalau transaksinya private dan cash, ya gampang banget ngilang dari radar pajak.

Isu Gen Z & Fashion

Gen Z makin banyak terjun ke fashion. Mereka bikin brand clothing kecil, ikut fashion show indie, sampai collab dengan brand besar.

Buat mereka, pajak sering jadi “urusan nanti.” Fokusnya bikin brand keren, naikin exposure, bukan ngurus NPWP. Padahal, kalau bisnis fashion mereka makin gede, pajak bakal jadi ujian serius.

Potensi Pajak Besar

Coba hitung:

  • Satu event fashion besar bisa omzet miliaran (tiket + sponsor).
  • Koleksi high-end bisa bernilai puluhan miliar.
  • Model asing & artis internasional bawa kontrak dolar.

Kalau semua tercatat, pajak dari fashion show bisa jadi sumber pemasukan negara yang signifikan.

Masalah di Lapangan

  1. Banyak Event Komunitas. Pajaknya sering diabaikan.
  2. Luxury Brand Global. Kadang main di Indonesia tanpa entitas pajak resmi.
  3. Ketidakjelasan Kategori. Fashion show dianggap hiburan? Bisnis? Atau seni? Tiap daerah bisa beda tafsir.

Masa Depan Pajak Fashion Show 2026

  1. Kategori Khusus. Harus ada regulasi jelas: fashion show masuk pajak hiburan atau industri kreatif.
  2. Insentif Fashion Lokal. Desainer muda harus dapet tax rebate biar bisa bersaing dengan brand global.
  3. Model Asing Transparan. Honor wajib lewat sistem resmi, nggak bisa cash.
  4. Digital Reporting. Tiket, sponsor, dan penjualan koleksi harus lewat sistem e-invoicing.

Closing

Fashion show di Jakarta udah jadi event global. Bukan lagi sekadar hiburan, tapi juga bisnis besar. Pajak bisa jadi beban, tapi juga bisa jadi alat dukungan.

Kalau regulasi dibuat jelas, Indonesia bisa jadi hub fashion Asia Tenggara. Tapi kalau pajak masih abu-abu, brand global bisa seenaknya, sementara desainer lokal terus ketiban beban.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *