KOnsultan Pajak Jakarta – Gaji di Bawah Rp10 Juta Bebas Pajak: Realita, Bukan Mimpi Basah Para Karyawan
Oke, let’s be honest dulu.
Lo pernah gak sih liat berita “Gaji di bawah Rp10 juta bebas pajak”?
Langsung auto senyum, mikir, “Finally, negara ngerti penderitaan kaum gaji UMR plus dikit.”
Tapi abis scroll-scroll lagi, muncul kata-kata sakral: “hanya untuk sektor tertentu, sesuai PMK 10/2025.”
Dan tiba-tiba harapan lo anjlok kayak saham waktu krisis.
Nah, biar gak salah paham dan gak keburu senang sebelum waktunya, yuk kita bahas realnya gimana — dengan gaya ngobrol, bukan gaya seminar pajak jam 8 pagi.
1. Jadi, Emang Bener Nih Gaji di Bawah Rp10 Juta Bebas Pajak?
Yes, tapi jangan langsung heboh.
Emang pemerintah ngeluarin kebijakan ini — PPh 21 Ditanggung Pemerintah (DTP) — buat ngebantu pekerja yang gajinya di bawah Rp10 juta per bulan.
Tapi bukan berarti semua orang yang gajinya segitu langsung bebas pajak total.
Gini logikanya:
Pajaknya tetep dihitung, cuma dibayar sama pemerintah.
Jadi lo tetep punya pajak yang seharusnya dipotong, tapi duitnya gak kepotong.
Lo terima gaji full.
Cuan-nya tetep utuh.
Tapi secara sistem, pajak lo udah “dibayar” (alias ditanggung negara).
2. Dasar Hukumnya Serius Nih, Bukan Wacana
Aturannya jelas banget: Peraturan Menteri Keuangan (PMK) No. 10 Tahun 2025.
Ini bukan sekadar janji kampanye atau headline clickbait, tapi legal dan resmi.
Kebijakan ini berlaku buat masa pajak Januari sampai Desember 2025, dan sebenernya lanjutan dari kebijakan serupa yang dulu cuma berlaku di sektor industri padat karya (kayak tekstil, garmen, alas kaki).
Sekarang, sektor penerimanya diperluas, biar efek ekonominya makin luas juga.
3. Tapi Siapa yang Bisa Nikmatin “Bebas Pajak” Ini?
Nah, ini poin penting yang sering di-skip pas baca headline.
Yang berhak dapet cuma:
- Karyawan tetap dengan gaji bruto maksimal Rp10 juta/bulan.
- Karyawan gak tetap (freelancer, harian) dengan upah maksimal Rp500 ribu/hari atau total gak lebih dari Rp10 juta/bulan.
- Dan… harus kerja di sektor usaha tertentu yang masuk klasifikasi pemerintah (kayak tekstil, garmen, furnitur, kulit, dan alas kaki).
So, kalau lo kerja di startup tech, agency digital, restoran, atau fintech — sorry to say, lo belum tentu termasuk.
4. Jadi, Gak Semua Karyawan Otomatis Bebas Pajak?
Exactly.
Kebijakan ini bukan kayak promo Shopee “semua dapat gratis ongkir”.
Ini selective.
Cuma berlaku buat karyawan yang:
- Kerjanya di sektor padat karya tertentu yang udah dijelasin di PMK 10/2025.
- Punya NPWP atau NIK terdaftar di sistem DJP.
- Gak lagi dapet insentif pajak lain (karena gak bisa dobel fasilitas).
Kalau lo kerja di industri lain — misalnya di sektor perbankan, pariwisata, atau startup SaaS — lo tetep bayar PPh 21 kayak biasa.
5. Gimana Kalau Gaji Gue Rp8 Juta Tapi Gue Kerja di Sektor Lain?
Nah, ini contoh paling umum.
Lo mungkin ngerasa eligible karena gaji lo di bawah Rp10 juta, tapi kalau bisnis tempat lo kerja bukan di sektor industri padat karya, ya tetep kena pajak normal.
Gaji Rp8 juta di agency iklan misalnya — tetep kena PPh 21 sesuai tarif umum.
Jadi jangan salah tafsir.
Yang penting tuh bukan cuma jumlah gajinya, tapi jenis industrinya.
6. Apa Aja Kriterianya Biar Dapet Bebas Pajak?
Kalau lo karyawan tetap:
- Gaji ≤ Rp10 juta/bulan.
- NPWP/NIK valid di DJP.
- Perusahaan lo termasuk dalam sektor padat karya.
- Gak terima insentif pajak lain.
Kalau lo karyawan gak tetap (harian):
- Upah ≤ Rp500 ribu per hari.
- Total penghasilan sebulan ≤ Rp10 juta.
- Punya NPWP/NIK aktif.
- Perusahaan termasuk sektor padat karya.
7. Cara Dapetin Fasilitasnya Gimana?
Lo gak perlu daftar ke kantor pajak atau isi form aneh-aneh.
Yang ngurus justru HRD atau bagian payroll di perusahaan lo.
Step-nya gini:
- Pastikan lo udah punya NPWP/NIK aktif.
- Pastikan perusahaan lo termasuk sektor penerima insentif (dicek di PMK 10/2025).
- Perusahaan lo harus ngajuin fasilitas PPh 21 DTP ke DJP.
- Lo tinggal cek di slip gaji — biasanya muncul tulisan “PPh 21 DTP” atau “PPh 21 Ditanggung Pemerintah.”
Kalau tulisan itu muncul, berarti gaji lo full tanpa potongan pajak, tapi pajaknya udah ditanggung negara.
8. Eh Tapi Walau Bebas Pajak, Masih Wajib Lapor SPT Gak?
Yes, masih wajib.
Ini kesalahan paling sering.
Karena PPh 21 lo ditanggung pemerintah, bukan berarti lo gak punya kewajiban pajak.
Lo tetep harus lapor SPT Tahunan.
Bedanya cuma sumber pemotongannya aja:
Biasanya pajak lo dipotong perusahaan, sekarang dibayar oleh pemerintah.
9. Sektor Usaha yang Berhak Dapet Insentif Ini
Langsung aja biar jelas, nih daftarnya dari Pasal 3 ayat (1) huruf A PMK 10/2025:
- Industri alas kaki
- Industri tekstil dan pakaian jadi
- Industri furnitur
- Industri kulit dan barang dari kulit
Fokusnya jelas: padat karya, alias sektor yang nyerap tenaga kerja banyak dan rawan goyah kalau ekonomi lesu.
10. Apakah Ini Sama Kayak Naikin PTKP?
Nope, beda banget.
PTKP (Penghasilan Tidak Kena Pajak) itu batas minimum penghasilan tahunan yang bebas pajak secara umum — sekarang di angka Rp54 juta/tahun (alias Rp4,5 juta/bulan).
Sedangkan PPh 21 DTP ini tuh insentif khusus sementara.
Artinya:
- Lo tetep punya kewajiban pajak (karena gaji di atas PTKP).
- Tapi tahun ini, pajaknya ditanggung pemerintah.
baca juga
- bedanya apa sih pajak freelancer sama karyawan tetap?
- PPh Pasal 21 Untuk Karyawan Pindah Kerja
- Gaji di Bawah Rp10 Juta Bebas Pajak
- Perusahaan Pemungut PPN PPMSE Terbaru
- Bunga Pajak Naik-Turun, Kayak Mood Pas Akhir Bulan
11. Nih Contohnya Biar Gak Abstrak
Misal lo kerja di pabrik sepatu, gaji Rp10 juta per bulan.
Secara aturan normal, lo bakal kena PPh 21 karena udah di atas PTKP.
Tapi karena industri sepatu masuk sektor padat karya, dan pemerintah lagi kasih insentif DTP,
→ pajak lo dibayar pemerintah.
→ Gaji yang lo terima utuh Rp10 juta.
→ Lo tetep wajib lapor di SPT, tapi gak ada potongan PPh 21 di slip gaji.
12. Dampaknya ke Pekerja
Honestly, ini lumayan game-changer.
Dengan pajak ditanggung negara, otomatis take-home pay lo naik.
Lebih banyak uang yang bisa lo simpen, belanjain, atau bayar cicilan.
Secara makro, ini langkah buat menjaga daya beli masyarakat kelas pekerja.
Karena karyawan dengan gaji < Rp10 juta tuh backbone ekonomi.
Mereka yang paling rentan kalau harga naik, tapi juga paling berpengaruh ke konsumsi nasional.
13. Dampaknya ke Perusahaan
Perusahaan juga ikut happy.
Mereka gak perlu nyetor PPh 21 untuk karyawan eligible,
jadi cash flow mereka jadi lebih longgar.
Uang bisa dipake buat produksi, perbaikan mesin, atau bahkan nambah shift kerja.
Tapi catet: perusahaan wajib lapor realisasi insentif PPh 21 DTP ke DJP biar gak dianggap nunggak pajak.
14. Jadi, Tujuan Besar Kebijakan Ini Apa?
Pemerintah gak cuma mau “baik hati” bagi-bagi bebas pajak.
Ada grand design di baliknya:
- Nahan daya beli biar gak anjlok.
- Support industri padat karya biar gak PHK massal.
- Dorong pemulihan ekonomi pasca tekanan global.
Intinya, ini bukan cuma soal angka di slip gaji, tapi strategi ekonomi nasional.
15. The Real Talk: Apa Artinya Buat Lo?
Kalau lo kerja di sektor padat karya — congrats, lo bakal ngerasain efeknya langsung.
Tapi kalau lo kerja di sektor lain, jangan iri dulu.
Kebijakan ini kemungkinan besar bisa jadi pilot project, dan ke depan bisa aja diperluas ke sektor lain.
So yeah, sementara ini, nikmatin dulu buat yang dapet.
Dan buat yang belum, at least lo ngerti struktur kebijakannya, biar gak termakan headline “bebas pajak” yang misleading.
Kesimpulan: Bebas Pajak, Tapi Tetep Harus Melek Aturan
“Gaji di bawah Rp10 juta bebas pajak” itu bukan mitos, tapi juga bukan promo all-you-can-eat.
Ada syarat, ada sektor tertentu, dan ada batasan waktu.
Yang penting lo paham konteksnya:
- Pajak tetep dihitung, cuma ditanggung pemerintah.
- Berlaku buat sektor padat karya aja.
- Tetep wajib lapor SPT Tahunan.
Kalau lo eligible — congrats, gaji lo tahun ini utuh tanpa potongan.
Kalau belum, setidaknya lo tau: pajak bukan musuh, tapi sistem buat bikin ekonomi tetep muter.
Dan siapa tau, next year, sektor lo masuk list penerima insentif juga.
“Rp10 Juta, Angka Magis: Antara Bebas Pajak dan Realita Finansial Kaum Pekerja Muda”
Lo sadar gak sih, Rp10 juta tuh angka yang aneh banget?
Di satu sisi, kedengeran gede — kayak, “wah gila gajinya udah dua digit, keren sih.”
Tapi di sisi lain, di realita kota besar kayak Jakarta, Bandung, atau Bali, Rp10 juta bisa lenyap kayak uap Indomie abis diseduh.
Jadi waktu pemerintah ngumumin “Gaji di bawah Rp10 juta bebas pajak”, reaksi orang tuh campur-campur.
Ada yang seneng banget, ada yang skeptis, ada juga yang nanya, “emang segitu cukup buat hidup di kota gak sih?”
Nah, kita bongkar bareng, tapi bukan buat ngedebat, melainkan buat ngerti konteks besar di balik kebijakan ini.
1. Kenapa Batasnya Rp10 Juta?
Keliatannya random, tapi sebenernya enggak.
Angka Rp10 juta dipilih karena itu titik “psikologis ekonomi” kelas menengah bawah urban Indonesia.
Kalau lo punya gaji di bawah angka itu, lo belum bener-bener aman secara finansial.
Hitung aja:
- Kosan Rp2–3 juta
- Makan Rp2 juta
- Transport Rp1 juta
- Cicilan HP/laptop Rp800 ribu
- Healing minimalis Rp500 ribu
- Sisanya buat nabung, kirim ke orang tua, atau jaga-jaga
Ujungnya apa? Gaji Rp10 juta kayaknya banyak, tapi margin saving lo cuma sisa dikit.
Jadi logis banget kalau pemerintah nyoba meringankan beban di sisi pajak.
Intinya, Rp10 juta tuh bukan “banyak”, tapi “cukup untuk bertahan hidup dengan layak.”
Dan pemerintah sadar banget soal itu.
2. Momentum Ekonomi: Waktu yang Tepat Buat Main Kebijakan “Manis”
Konteksnya: ekonomi global lagi shaky.
Harga pangan naik, suku bunga tinggi, daya beli stagnan.
Dan di sisi lain, sektor padat karya (kayak tekstil & alas kaki) mulai ngos-ngosan karena order ekspor menurun.
Jadi apa yang dilakukan pemerintah?
Mereka kasih “nafas” buat dua pihak:
- Karyawan: dikasih gaji full tanpa potongan pajak.
- Perusahaan: gak usah nyetor PPh 21 ke negara, cash flow longgar.
Win-win kan?
Ekonomi tetap jalan, konsumsi tetap muter, dan perusahaan gak buru-buru PHK.
Itu strategi fiskal disguised as empati sosial.
3. Tapi Real Talk: Siapa yang Sebenernya Diuntungkan?
Kita jujur aja: gak semua pekerja bakal ngerasain efeknya.
Kebijakan ini hanya nyentuh sekitar 3-4 juta pekerja di sektor padat karya, bukan seluruh pekerja di Indonesia.
Artinya, kalau lo kerja di startup tech, restoran, atau agensi digital — lo gak dapet.
Padahal, justru banyak banget anak muda kerja di sektor itu, dengan gaji mirip atau bahkan lebih rendah dari Rp10 juta.
Jadi agak ironis, kebijakan “bebas pajak buat rakyat kecil” ini gak nyentuh mayoritas kelas pekerja muda urban.
Tapi ya, pemerintah punya alasan kuat: mereka fokus dulu ke sektor dengan multiplier effect tinggi — padat karya nyerap tenaga kerja paling banyak.
Dalam politik fiskal, itu disebut “targeted relief”.
Mending bantu yang paling banyak dulu, baru nanti diperluas.
4. Gen Z dan Ilusi Gaji 10 Juta
Masalahnya: generasi muda punya ekspektasi aneh tentang uang.
Lo sering liat tweet, “gaji 10 juta mah miskin di Jakarta.”
Atau TikTok yang bilang, “di bawah 10 juta tuh bukan hidup, tapi bertahan.”
Itu bukan lebay.
Cost of living naik jauh lebih cepat daripada kenaikan gaji.
Makanya, waktu ada kebijakan bebas pajak, orang-orang ngerasa itu validasi kecil — kayak, “akhirnya negara ngerti kita capek bayar pajak buat uang yang bahkan gak cukup.”
Tapi sisi lain dari mentalitas ini agak bahaya.
Karena kalau lo ngerasa “bebas pajak = bebas tanggung jawab”, itu jebakan manis.
Negara ngasih kelonggaran, tapi sistem tetep nyatet penghasilan lo.
Artinya, lo masih wajib lapor SPT tahunan.
5. Apa Dampak Psikologisnya ke Pekerja?
Ada dua sisi:
- Sisi positif: lo ngerasa lebih dihargai. Lo dapet gaji full, motivasi kerja naik, dan lo bisa belanja tanpa guilt trip.
- Sisi negatif: banyak yang nganggep ini “free pass” buat gak ngurus pajak. Padahal, kalau gak lapor SPT, lo bisa kena teguran tahun depan.
Efek sosial lainnya juga menarik — di banyak pabrik tekstil, HR mulai lapor kalau absensi meningkat, produktivitas naik dikit.
Kenapa? Karena karyawan ngerasa dapet “bonus tidak langsung” dari negara.
Ini bukti kecil bahwa kebijakan pajak bisa punya dampak moral juga.
6. Dari Sisi Perusahaan: Napas Panjang Buat Bertahan
Buat perusahaan padat karya, ini literally life support.
Bayangin punya ribuan karyawan dengan gaji 5–9 juta, dan tiap bulan harus setor PPh 21 mereka ke negara.
Kalau angka itu dikasih “cuti pajak” setahun, cash flow perusahaan jadi lumayan aman.
Perusahaan bisa pakai dana itu buat maintenance, bayar utang bahan baku, bahkan nambah shift.
Yang ujungnya: gak perlu PHK massal.
Dan ini poin paling krusial — insentif pajak ini sebenernya strategi anti-PHK terselubung.
7. Ekonomi Makro: Pemerintah Lagi Main Strategi ‘Soft Landing’
Kalau lo ngikutin tren fiskal global, banyak negara lagi struggle antara “ngegas pertumbuhan” dan “nahan inflasi.”
Indonesia coba cari tengah-tengah lewat kebijakan kayak gini.
Dengan ngebebasin pajak sektor tertentu, pemerintah ngurangin beban konsumsi tanpa harus nurunin suku bunga.
Clever move, karena efeknya langsung ke dompet rakyat, bukan cuma headline di media.
Tapi catet: ini sementara.
Kebijakan ini berlaku cuma tahun 2025.
Kalau ekonomi belum pulih, bisa diperpanjang — tapi kalau udah stabil, siap-siap PPh 21 balik seperti biasa.
8. The Hidden Game: Politik dan Persepsi Publik
Kita gak bisa naif — setiap kebijakan publik pasti punya sisi politis.
Kebijakan “bebas pajak Rp10 juta” ini punya daya tarik politik besar, terutama di tahun pasca pemilu dan menjelang konsolidasi kabinet baru.
Ini semacam cara halus buat jaga trust rakyat:
“Lihat, kita peduli kok sama rakyat kecil.”
Dan honestly, itu sah-sah aja.
Selama eksekusinya gak jadi gimmick, efek ekonominya nyata, dan birokrasi gak ribet.
9. Realita yang Mesti Diterima: Bebas Pajak Bukan Berarti Bebas Sistem
Lo bisa dapet gaji full, tapi sistem pajak tetep jalan.
Negara tetep nyimpen data penghasilan lo, dan semua itu bakal muncul waktu lo lapor SPT.
Jadi mindset-nya harus digeser:
“Negara bantu lo sekarang, tapi lo tetep punya tanggung jawab administrasi.”
Kayak cashback Shopee — bukan berarti lo gak bayar, tapi lo dikasih balik sebagian.
10. Apakah Kebijakan Ini Akan Diperluas?
Kecil kemungkinan di 2026 nanti langsung diperluas ke semua sektor.
Tapi tren kebijakan fiskal Indonesia nunjukin arah ke sana — makin personal, makin targeted.
Mungkin nanti bukan cuma berdasarkan sektor, tapi juga lokasi (misalnya wilayah dengan biaya hidup tinggi) atau jenis pekerjaan (remote worker, freelancer, dll).
Kalau itu kejadian, baru kita masuk era baru: pajak berbasis realitas sosial, bukan cuma angka kering.
11. Kenapa Ini Penting Buat Generasi Muda?
Karena lo yang bakal paling sering kena imbasnya.
Generasi Gen Z udah mulai masuk masa produktif dan bayar pajak.
Dan sistem kayak gini nentuin gimana lo bakal “ngobrol” sama negara:
Apakah lo ngerasa pajak itu beban, atau alat buat survive bareng?
Kebijakan kayak gaji < Rp10 juta bebas pajak bisa jadi awal yang bagus buat ngebentuk trust itu.
Negara bantu dulu, lo belajar patuh dulu.
Win-win, asal gak abuse.
12. Jadi, Akhirnya Apa?
Kebijakan ini bukan sekadar “bonus dari negara.”
Ini bagian dari eksperimen besar — gimana cara bikin sistem pajak lebih adil, relevan, dan nyambung ke realita sosial.
Buat lo yang dapet insentif, anggep ini kesempatan buat nafas.
Buat lo yang belum, anggep ini blueprint masa depan: kalau ekonomi makin adaptif, sektor lo bisa aja jadi next in line.
Karena pada akhirnya, “bebas pajak” bukan cuma soal duit, tapi soal hubungan antara warga dan negaranya.
Dan Rp10 juta — angka yang sederhana itu — tiba-tiba jadi simbol pergeseran cara kita mikir tentang kesejahteraan.