Coretax: Revolusi Sistem Pajak Indonesia

https://idtax.or.id/ Coretax: Revolusi Sistem Pajak Indonesia , Kalau lo kira pajak itu cuma soal angka-angka di kertas dan antrean panjang di kantor pajak, lo lagi ketinggalan jaman. Tahun 2025 ini, Direktorat Jenderal Pajak (DJP) lagi ngebut banget ngejalanin proyek yang mereka sebut Coretax Administration System, alias Coretax. Bahasa gampangnya: ini semacam brain upgrade buat sistem perpajakan Indonesia, biar lebih modern, terintegrasi, dan katanya sih, lebih adil.

Tapi apakah bener Coretax ini bakal jadi revolusi, atau cuma ganti baju doang buat sistem lama yang udah sering error kayak server DJP pas deadline SPT? Yuk kita kulik.

Apa Sih Coretax Itu?

Coretax sebenernya mirip kayak lo upgrade dari hape kentang ke flagship terbaru. Dari yang tadinya lemot, data nyebar, gak sinkron, sekarang dipaksa jadi satu sistem terpusat dengan teknologi cloud, big data, AI, dan machine learning.

DJP nyebut Coretax ini sebagai tulang punggung baru administrasi pajak Indonesia. Intinya, semua alur pajak mulai dari registrasi NPWP, pelaporan, pembayaran, sampai pemeriksaan bakal lewat satu sistem terintegrasi. Jadi gak ada lagi cerita data di KPP A beda sama KPP B.

Analoginya: kalau dulu tiap kantor pajak punya lemari arsip sendiri-sendiri, sekarang semua arsip ditaruh di satu Google Drive raksasa yang bisa diakses real-time.

Kenapa Indonesia Butuh Coretax?

Jawaban singkat: karena sistem lama udah uzur. Bayangin, sistem pajak sebelumnya dibangun sejak tahun 2000-an awal. Di era Orde Baru, banyak data pajak masih manual, dan setelah digitalisasi pun, hasilnya kayak tambal sulam. Ada e-Faktur di satu sisi, e-Bupot di sisi lain, sistem billing sendiri, belum lagi aplikasi SPT tahunan yang tiap tahun bisa bikin jutaan orang migrain bareng-bareng.

Masalahnya: semua sistem ini gak nyambung. Akhirnya DJP sering kesulitan tracking wajib pajak secara menyeluruh. Itu juga jadi celah kenapa masih banyak orang bisa ngeles bayar pajak.

Coretax jadi jawabannya: satu platform buat semua, supaya DJP bisa punya single view of taxpayer.

Apa yang Berubah Buat Kita?

Nah, ini yang paling bikin penasaran. Buat masyarakat biasa sampai korporasi gede, Coretax bakal bawa beberapa perubahan:

  1. NPWP 16 digit full digital
    Sekarang semua identitas pajak lo nyambung ke NIK. Jadi gak ada lagi main-main punya NPWP dobel. Mau bikin rekening, kredit, atau investasi, semua bisa ketahuan dari NIK lo.
  2. Pelaporan lebih gampang (atau justru lebih ribet?)
    DJP janjiin pelaporan pajak bisa lebih simpel, karena data udah pre-filled dari berbagai sumber (bank, employer, marketplace). Tapi ada sisi satir: kalau semua data udah keisi otomatis, ruang buat “kreativitas” wajib pajak jadi makin sempit.
  3. Integrasi dengan sektor lain
    Bayangin, data transaksi lo di e-commerce, digital wallet, bahkan aset kripto bisa otomatis terhubung ke Coretax. Jadi kalau tiba-tiba saldo lo di aplikasi investasi naik drastis, DJP bisa langsung curiga, “eh, udah setor pajaknya belum?”
  4. Pemeriksaan lebih akurat
    Karena ada AI, sistem bisa otomatis deteksi transaksi mencurigakan. Lo beli mobil mewah, padahal penghasilan resmi lo UMR, bisa langsung “dilambaikan tangan” buat diperiksa.

Storytelling: Kasus Si Andi dan Coretax

Coba bayangin Andi, 30 tahun, kerja sebagai content creator. Penghasilannya campur aduk: ada AdSense, endorsement Instagram, dan jualan kursus online. Dulu Andi bisa lapor seadanya, DJP mungkin gak ngeh karena datanya terpencar.

Tapi 2025 beda. Semua invoice pembayaran digital, data rekening, sampai transaksi di marketplace nyambung ke Coretax. Begitu Andi lapor SPT, sistem udah otomatis ngejajar data pemasukan dia. Kalau ada yang gak nyambung, langsung muncul notifikasi: “Penghasilan Anda tercatat lebih besar dari laporan. Silakan periksa kembali.”

Keliatannya canggih, tapi buat Andi ini bikin deg-degan. Kalau dulu masih bisa ngegampangin, sekarang DJP kayak punya CCTV finansial di setiap sudut hidupnya.

baca juga

Coretax: Ancaman atau Peluang?

Buat wajib pajak yang taat, Coretax sebenernya kabar baik. Lo gak perlu ribet isi form panjang, karena data udah pre-filled. Proses lebih cepat, risiko salah input lebih kecil.

Tapi buat mereka yang biasa main abu-abu, ini jelas ancaman. Gak bisa lagi ngumpetin penghasilan di rekening lain, gak bisa lagi pura-pura omzet kecil padahal orderan bejibun.

Buat negara, Coretax jelas peluang emas. Dengan data yang rapi dan lengkap, potensi pajak yang hilang bisa ditekan. Target tax ratio yang selama ini stuck di 10–11% mungkin bisa naik ke 13–14% kayak negara tetangga.

Satire: Apakah Coretax Bisa Lawan “Pajak Rasa KKN”?

Masalah klasik di Indo bukan cuma soal sistem, tapi juga soal mental. Percuma sistem canggih kalau di lapangan masih ada main mata antara wajib pajak dan oknum aparat. Coretax katanya bisa bikin semuanya transparan. Tapi kita tahu, teknologi sering kalah sama “akal bulus” manusia.

Jangan-jangan nanti muncul startup baru: Joki Pajak 4.0, yang tugasnya bantuin orang tetap lolos walau ada Coretax.

Perbandingan dengan Negara Lain

Indonesia gak sendirian. Negara tetangga kayak Singapura udah lama pakai sistem pajak terintegrasi yang seamless. Mereka punya MyTax Portal, di mana semua data penghasilan otomatis ditarik, jadi wajib pajak tinggal klik “ok”.

Malaysia juga udah menuju digital penuh dengan e-Filing yang lebih stabil. Sementara kita, baru di 2025 ini coba lompat lewat Coretax. Pertanyaannya: apakah kita bisa langsung catch up, atau bakal keteter karena infrastruktur IT di Indonesia masih tambal sulam?

Risiko di Balik Coretax

  1. Data security
    Dengan data pajak yang segitu sensitifnya, gimana kalau ada kebocoran? Kalau hacker bisa bobol data bank, apa DJP bisa jamin aman dari serangan siber?
  2. Server down classic
    Udah sering kejadian tiap deadline SPT, server DJP down. Sekarang kalau semua data digabung, beban server makin gede. Bisa aja “revolusi” ini berujung frustrasi massal tiap Maret.
  3. Gap digital
    Banyak UMKM di daerah yang masih gaptek. Kalau semua dipaksa lewat Coretax, bisa-bisa mereka makin males lapor pajak karena ribet.

Masa Depan Pajak dengan Coretax

Kalau berhasil, Coretax bisa jadi fondasi sistem pajak Indonesia 20–30 tahun ke depan. Bukan cuma bikin laporan lebih gampang, tapi juga bikin DJP bisa bikin kebijakan berbasis data real-time. Bayangin, pemerintah bisa langsung lihat tren konsumsi, investasi, sampai sektor ekonomi yang lagi tumbuh, semua dari dashboard Coretax.

Tapi kalau gagal? Bisa jadi Coretax cuma jadi proyek triliunan rupiah yang berakhir kayak aplikasi pemerintah lain: bagus di presentasi, chaos di implementasi.

Penutup

Coretax ini ibarat jalan tol baru buat sistem pajak Indonesia. Harapannya lebih cepat, lebih lancar, lebih terintegrasi. Tapi jangan lupa, jalan tol yang megah pun percuma kalau ujung-ujungnya macet karena manajemen buruk atau ulah oknum.

Revolusi ini bisa jadi game changer, bisa juga jadi bahan meme baru di Twitter kalau pas deadline server error.

Yang jelas, suka gak suka, siap gak siap, kita semua bakal hidup di bawah radar Coretax.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *