https://idtax.or.id/ Pajak Beauty Influencer & MUA. Dunia Beauty Meledak
Industri kecantikan di Indonesia udah jadi monster gede. Dari skincare, make up, sampe aesthetic clinic, semua rame. Dan di balik booming ini, ada dua aktor utama: beauty influencer dan MUA (make-up artist).
Gen Z banyak banget yang nyemplung ke dunia ini. Ada yang jadi TikTok beauty guru, ada yang jadi MUA freelance buat wedding, ada juga yang collab brand skincare. Intinya: uang berputar, cuan ngalir.
Kalau ada uang, ya ada pajak.
Beauty Influencer: dari TikTok ke Pajak
Influencer kecantikan sekarang bukan cuma endorse skincare lokal. Mereka bisa dapet brand deal internasional, collab sama brand Korea, bahkan punya produk sendiri.
Sumber penghasilan beauty influencer biasanya:
- Endorse produk (skincare, make up, clinic).
- Affiliate marketing (Shopee, Tokopedia, Lazada).
- YouTube AdSense atau TikTok Creator Fund.
- Kolaborasi produk (lipstick, serum, dll).
- Paid event atau beauty class.
Secara hukum, semua itu kena PPh (Pajak Penghasilan). Kalau mereka dapet Rp100 juta sebulan, ya harus lapor. Tapi kenyataannya? Banyak yang belum punya NPWP, apalagi bikin laporan pajak.
Make-up Artist: Freelance tapi Besar
MUA punya model bisnis unik. Mereka biasanya freelance, tanpa perusahaan. Tapi fee mereka bisa gede banget.
- MUA wedding bisa tarif Rp10-50 juta per klien.
- MUA seleb bisa ratusan juta sekali proyek.
- Bahkan ada MUA TikTok yang viral, langsung kebanjiran order.
Kalau dihitung, omzet mereka setara UMKM besar. Tapi banyak yang masih dianggap “jasa personal” tanpa kewajiban pajak jelas.
Kasus di Lapangan
- Influencer TikTok Beauty. Dapet endorse Rp20 juta per bulan. Semua cash/transfer, tanpa invoice resmi. Pajak? Nihil.
- MUA Wedding. Punya rate Rp15 juta sekali job, bisa 10 job sebulan. Penghasilan Rp150 juta. Laporan pajak? Nggak ada.
- Beauty Brand Collab. Influencer bikin lip tint collab. Penjualan 50 ribu pcs. Itu udah level bisnis gede. Pajaknya? Baru kebaca kalau brand yang lapor.
Regulasi Pajak Influencer di Indonesia
Sejak 2021, DJP (Direktorat Jenderal Pajak) udah nembak influencer sebagai target pajak baru. Mereka punya akses data transfer bank, data marketplace, bahkan data iklan.
Jadi, meski influencer pikir bisa kabur, sebenarnya DJP udah bisa tracking.
PPh final 0,5% (untuk omzet < Rp4,8 miliar per tahun) bisa dipakai influencer & MUA kecil. Tapi kalau omzet udah gede, tarif progresif berlaku.
baca juga
- bedanya apa sih pajak freelancer sama karyawan tetap?
- PPh Pasal 21 Untuk Karyawan Pindah Kerja
- Gaji di Bawah Rp10 Juta Bebas Pajak
- Perusahaan Pemungut PPN PPMSE Terbaru
- Bunga Pajak Naik-Turun, Kayak Mood Pas Akhir Bulan
Global Benchmark
- AS: Influencer wajib lapor semua income dari brand deal, bahkan free product dihitung income.
- Korea Selatan: Pajak influencer ketat. Banyak YouTuber & streamer kena audit.
- Indonesia: Baru tahap sosialisasi, tapi sebentar lagi bakal ketat kayak Korea.
Beauty Class & Event
Banyak influencer bikin beauty class. Tiketnya bisa Rp500 ribu – Rp2 juta per orang. Kalau pesertanya ratusan, omzet bisa ratusan juta. Itu sebenarnya udah masuk kategori event business yang kena pajak hiburan + PPN.
Tapi banyak yang jalan tanpa invoice, tanpa laporan.
Affiliate Marketing & Pajak
Shopee affiliate dan TikTok affiliate sekarang jadi pintu cuan buat beauty influencer. Komisi masuk rekening tiap bulan. Itu harusnya masuk pajak penghasilan juga.
DJP bisa dapet data dari platform, jadi nggak bisa lagi main aman.
Tantangan Pajak Beauty Industry
- Cash-based. Banyak transaksi dibayar cash, susah dilacak.
- Personal branding. Influencer & MUA jalan sendiri, nggak pake PT atau CV.
- Kurang edukasi. Banyak yang nggak ngerti cara lapor pajak, atau pura-pura nggak ngerti.
Potensi Pajak Besar
Bayangin aja:
- Ada ribuan MUA wedding di seluruh Indonesia.
- Ada puluhan ribu beauty influencer di TikTok & Instagram.
- Industri kecantikan nilainya > Rp100 triliun.
Kalau semua tercatat, pajaknya bisa jadi salah satu sumber APBN non-migas paling seksi.
Gen Z Beautypreneur
Gen Z di beauty industry nggak cuma jadi influencer. Mereka juga bikin brand kecil, dari lip serum sampai skincare herbal. Pajaknya makin rumit karena ada dua sisi: pribadi (influencer) + badan usaha (brand).
Kalau mereka bener-bener serius, pajak justru bisa jadi alat buat validasi bisnis.
Isu Etika: Pajak vs Free Product
Banyak brand kasih free product ke influencer. Di luar negeri, ini dihitung income dalam bentuk barang. Apakah Indonesia bakal ikutin? Kalau iya, ribuan influencer bisa kena pajak produk gratis.
Masa Depan Pajak Beauty 2026
- Wajib NPWP Digital. Semua influencer dan MUA wajib punya NPWP untuk collab dengan brand.
- Platform Report. TikTok, Shopee, IG wajib kasih data ke DJP.
- PPh Final Khusus Influencer. Bisa aja muncul aturan pajak flat buat influencer biar lebih gampang.
- Audit Beauty Class. Event beauty bakal kena pajak hiburan resmi.
Kesimpulan
Dunia beauty makin gede, makin cuan, makin nggak bisa lepas dari pajak. Influencer dan MUA harus siap, karena pajak bukan lagi opsional.
Pertanyaannya tinggal: apakah pajak ini akan jadi beban, atau bisa jadi jembatan biar beautypreneur makin legit?