Pajak Pariwisata di Bali, Antara Bisnis & Lingkungan

https://idtax.or.id Pajak Pariwisata di Bali: Antara Bisnis & Lingkungan. Bayangin lu lagi liburan ke Bali. Udah siap-siap vibes healing, tapi pas di bandara Ngurah Rai ada announcement: “Dear wisatawan, sebelum keluar tolong bayar Rp150 ribu untuk kontribusi pariwisata.”

Kalau lu bule dari Eropa mungkin bodo amat—Rp150 ribu itu cuma setara dua cappuccino Starbucks. Tapi buat backpacker Asia Tenggara atau turis budget-an, itu lumayan bikin mikir. Dan buat Bali, ini bukan sekadar tiket masuk surga, tapi strategi pajak pariwisata yang katanya demi lingkungan & budaya lokal.


Kenapa Bali Perlu Pajak Pariwisata?

  1. Overtourism
    Bali tuh udah kayak magnet dunia. Data BPS nunjukin lebih dari 5,2 juta wisatawan asing mampir ke Bali tahun 2023. Bayangin: pulau kecil dihajar jutaan orang tiap tahun. Dampaknya? Pantai penuh sampah, kemacetan parah, air tanah makin menipis.
  2. Sumber Pendapatan Baru
    Selama ini, Bali ngandelin pajak hotel & restoran (PHR) sebagai mesin duit. Tapi itu mostly dinikmati Pemda, bukan langsung buat konservasi. Pajak wisatawan asing (Rp150 ribu/orang) diproyeksikan ngasih tambahan Rp2,6 triliun/tahun kalau semua bule patuh bayar.
  3. Preserve Budaya & Lingkungan
    Katanya duit pajak ini bakal dipakai buat rehabilitasi lingkungan (contoh: bersihin pantai, konservasi terumbu karang), juga jaga adat & pura. Sounds noble kan?

Story: Sopir Taksi vs Turis Australia

Gue ngobrol sama Made, sopir taksi online di Bali. Dia cerita:
“Waktu ada turis Aussie naik mobil, dia kaget disuruh bayar pajak tambahan di bandara. Katanya Bali makin komersil, padahal mereka udah keluar duit banyak buat hotel & surfing. Saya bilang, ini buat lingkungan, tapi dia tetep ngomel.”

Nah, inilah dilema: buat bisnis lokal kayak Made, kalau turis jadi males datang karena pajak tambahan, orderan bisa turun. Tapi kalau tanpa pajak, Bali makin rusak dan pariwisata malah hancur pelan-pelan.


Argumen Pro Pajak Pariwisata

  1. Sumber Dana Konservasi Nyata
    Kalau serius dipakai buat bersihin laut & jaga pura, pajak ini bisa jadi solusi sustainability.
  2. Fairness Principle
    Turis asing yang numpang nikmatin Bali wajar dong ikut kontribusi lebih. Sama kayak lu bayar tiket masuk Taman Nasional.
  3. Diversifikasi PAD
    Bali terlalu tergantung sama pariwisata. Dengan pajak ini, ada pemasukan baru yang bisa dipakai buat infrastruktur, lingkungan, bahkan edukasi.

Argumen Kontra Pajak Pariwisata

  1. Nambah Beban Turis
    Indonesia bersaing sama Thailand, Vietnam, Malaysia. Kalau harga liburan ke Bali makin mahal, turis bisa geser destinasi.
  2. Trust Issues
    Rakyat skeptis. Yakin duit pajak beneran buat lingkungan? Atau masuk kantong pejabat? Kalau transparansi buruk, bisa jadi blunder.
  3. Dampak ke Bisnis Lokal
    Backpacker budget yang biasanya loyal ke Bali bisa kabur. Padahal mereka nyumbang ekonomi ke homestay kecil, warung lokal, driver ojol.

baca juga


Satire: Bali Jadi Disneyland? 🎢

Bayangin kalau logika pajak makin “niat”:

  • Masuk pantai Kuta → Rp20 ribu.
  • Foto di Tanah Lot → Rp50 ribu.
  • TikTok dance di Uluwatu → kena pajak digital 😂.

Kalau semua di-charge, Bali bisa kayak Disneyland: apa-apa bayar. Healing jadi mahal, bro.


Studi Kasus Global

  • Venice (Italia) → turis wajib bayar entry fee buat masuk kota. Tujuannya atur overtourism.
  • Bhutan → ada Sustainable Development Fee (USD 100/hari), tujuannya biar turis eksklusif dan nggak ngerusak budaya.
  • Thailand → mulai 2024 juga narik pajak turis sekitar Rp150 ribu, mirip Bali.

Artinya, Bali nggak sendirian. Tapi model sukses tergantung execution. Bhutan berhasil karena branding “exclusive travel”, sementara Bali masih ngejar kuantitas turis.


Relatable Story: Hotel Manager di Seminyak

Seorang GM hotel di Seminyak cerita:
“Pajak wisatawan asing ini sebenarnya nggak masalah kalau duitnya balik buat Bali. Tapi kami butuh jaminan transparansi. Kalau cuma masuk APBD tanpa laporan jelas, turis bakal makin skeptis.”

Dia bener. Isu trust & governance jadi PR utama.


Ekologi vs Ekonomi: Siapa Menang?

Kalau duit pajak beneran dipakai buat:

  • Rehabilitasi hutan mangrove Benoa
  • Bersihin sampah plastik di Pantai Jimbaran
  • Konservasi satwa endemik Bali

Maka ini bisa jadi contoh sukses eco-tourism tax. Tapi kalau ujung-ujungnya dipakai buat proyek mercusuar kayak bale bengong Rp10 miliar, jelas rakyat bakal ngamuk.


Digitalisasi Pajak Turis

Karena semua transaksi turis sekarang lewat digital (airbnb, booking.com, traveloka), Bali bisa jadi pionir pajak pariwisata berbasis QR Code & e-payment. Jadi nggak ada drama “uang cash ilang di jalan”.

Sekaligus, turis bisa lihat laporan real-time: “Rp150 ribu Anda dipakai untuk bersihin pantai Sanur hari ini.” Transparansi + tech = trust naik.


Penutup: Balance Antara Bisnis & Lingkungan

Jadi, apakah pajak pariwisata Bali perlu? Yes, but…

  • Perlu karena Bali emang butuh duit tambahan buat jaga lingkungan & budaya.
  • Tapi harus transparan, akuntabel, jangan jadi beban bisnis kecil.
  • Branding juga harus cerdas: pajak ini bukan sekadar “tiket masuk”, tapi “kontribusi menjaga surga dunia.”

Kalau Bali gagal naruh trust, turis bisa gampang pindah ke Phuket atau Langkawi. Tapi kalau sukses, Bali bisa jadi role model dunia soal sustainable tourism. 🌍✨

penulis tamu dari : Epajak.or.id

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *