Pajak Rokok & Cukai , Dampaknya untuk Ekonomi

https://idtax.or.id/ Pajak Rokok & Cukai: Dampaknya untuk Ekonomi , Lo pernah nggak, lagi nongkrong sama temen, terus ada yang buka bungkus rokok? Begitu rokoknya diambil, ternyata setengah dari bungkus itu isinya… pita cukai warna-warni yang bikin harga rokok makin gila.

Yes, bro, di balik sebatang rokok itu bukan cuma ada nikotin, tapi juga segunung pajak. Pemerintah nyebutnya cukai. Dan lucunya, cukai ini adalah salah satu mesin ATM paling stabil buat kas negara.


Sejarah Singkat: Dari Daun ke Duit

Indonesia udah lama jadi “surga tembakau”. Dari era kolonial, Belanda udah ngeliat tembakau sebagai komoditas emas. Tembakau Deli, kretek Kudus, sampai cengkeh Maluku—semuanya diekspor.

Pasca kemerdekaan, cukai rokok jadi instrumen sakti. Bayangin, rokok itu gampang diproduksi, konsumsi masif, dan addictif. Jadi kalau dipajakin, pasti stabil. Pemerintah literally bisa bilang: “Orang boleh berhenti beli mobil, tapi jarang yang bisa berhenti beli rokok.”


Struktur Pajak Rokok di Indonesia

Sederhananya, ada dua layer:

  1. Cukai Hasil Tembakau (CHT)
    • Tarif berbeda-beda tergantung jenis: Sigaret Kretek Mesin (SKM), Sigaret Kretek Tangan (SKT), Sigaret Putih Mesin (SPM).
    • Semakin mahal rokok, semakin tinggi cukainya.
  2. Pajak Rokok Daerah
    • Tambahan 10% dari cukai, masuk ke kas Pemda.

Jadi kalau lo beli rokok seharga Rp30 ribu, jangan kaget kalau hampir separuhnya itu pajak & cukai.


Kisah Nyata: Petani vs Pabrikan

Ceritanya kayak gini:

  • Petani tembakau di Temanggung tiap panen deg-degan. Harga sering jatuh, padahal permintaan rokok tinggi.
  • Pabrikan gede (kayak HM Sampoerna, Gudang Garam) dapet untung stabil, tapi tertekan cukai naik tiap tahun.
  • UMKM rokok kecil malah paling sengsara. Banyak yang gulung tikar gara-gara cukai makin tinggi, margin makin tipis.

Sementara itu, pemerintah happy: penerimaan cukai hasil tembakau 2023 aja tembus Rp230 triliun lebih.


Dampak Ekonomi: Dua Mata Pisau

  1. Positif
    • Cukai rokok jadi sumber penerimaan negara terbesar kedua setelah pajak penghasilan.
    • Dana transfer ke daerah lewat Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau (DBH CHT) bantu bangun jalan, rumah sakit, bahkan kampus.
  2. Negatif
    • Industri rokok padat karya → naiknya cukai bisa bikin pabrik kecil tutup, ribuan buruh kehilangan kerja.
    • Petani tembakau bisa tertekan harga rendah karena demand shifting.
    • Ekonomi daerah yang tergantung tembakau (Kayak Kediri, Temanggung) bisa goyah.

baca juga


Satire: Rokok = ATM Pemerintah?

Kadang gue mikir, rokok itu kayak pacar toxic: bikin sakit, tapi ditinggal nggak bisa. Pemerintah sering kampanye “Hidup sehat tanpa rokok”, tapi di sisi lain tiap tahun bilang, “Alhamdulillah target penerimaan cukai tercapai berkat rokok.” 😂

Ironi maksimal.


Data: Konsumsi vs Pendapatan

Menurut data BPS:

  • Konsumsi rokok di Indonesia masuk pengeluaran terbesar kedua rumah tangga miskin setelah beras.
  • Jadi, sebagian subsidi yang pemerintah kasih ke masyarakat miskin, balik lagi ke pemerintah lewat cukai rokok.

It’s like: pemerintah kasih lu Rp100 ribu lewat bansos, lu beli rokok, lalu Rp50 ribu balik lagi ke negara lewat cukai. Muter-muter kayak sinetron tak berujung.


Relatable Story: Anak Muda & Harga Rokok

Ada temen gue di kampus dulu, namanya Bayu. Gaji fresh graduate cuma 4 jutaan, tapi rokok sehari bisa habis 2 bungkus. Pas pemerintah naikin cukai, harga rokok naik Rp5 ribu per bungkus.

Bayu teriak:
“Anjir, ini sama aja kayak inflasi pribadi gue 10% sebulan.”

Tapi lucunya, dia tetep beli. Karena candu > logika. Dan disitulah pemerintah senyum.


Global Comparison: Indonesia vs Dunia

  • Australia → Harga rokok super mahal, bisa Rp300 ribu per bungkus, cukainya brutal. Tujuannya jelas: biar orang berhenti.
  • Eropa → Rata-rata 70% harga rokok adalah pajak.
  • Indonesia → Harga rokok masih relatif murah dibanding dunia, tapi cukainya naik tiap tahun. Pemerintah jalan di garis tipis: dapet duit tapi nggak boleh bikin chaos sosial.

Cukai Rokok Ilegal: Mafia di Balik Asap

Naiknya cukai bikin peluang buat rokok ilegal. Ada yang jualan rokok tanpa pita cukai, atau pakai pita palsu. Ini kayak black market versi lokal.

Kerugiannya? Negara bisa hilang triliunan, konsumen bisa dapet produk kualitas abal-abal.

Pemerintah tiap tahun kampanye “Gempur Rokok Ilegal” kayak kampanye antivirus. Tapi ya, selama demand tinggi, pasti supply gelap ada.


Masa Depan: Rokok Elektrik & Vape

Sekarang tren bergeser. Anak muda banyak yang pindah ke vape atau pod. Pertanyaan: pajaknya gimana?

Jawaban: udah ada. Pemerintah masukin cukai hasil pengolahan tembakau lainnya (HPTL) buat vape. Tarifnya bervariasi, tapi intinya: “Apapun yang lo isap, pemerintah isep juga bagiannya.”


Pajak Rokok & Kesehatan Publik

Di sisi lain, WHO dorong Indonesia buat lebih keras naikin cukai rokok demi kesehatan publik. Argumentasinya:

  • Naikin harga rokok → konsumsi turun.
  • Konsumsi turun → biaya kesehatan (BPJS) lebih ringan.

Tapi di Indonesia, teori ini nggak selalu jalan. Karena banyak orang justru pindah ke rokok murah atau rokok ilegal.


Analogi Lucu: Rokok Itu Kayak Kopi Sasetan

Cukai rokok kayak gula di kopi sasetan. Semakin manis (besar tarifnya), semakin bikin nagih pemerintah buat naikin lagi tiap tahun. Tapi di sisi lain, konsumen tetep beli meski sadar bikin darah tinggi.


Penutup: Ekonomi vs Kesehatan

Pajak rokok & cukai di Indonesia itu dilema klasik:

  • Negara butuh duit → cukai jadi penyelamat APBN.
  • Masyarakat butuh sehat → rokok bikin beban BPJS bengkak.
  • Industri butuh hidup → kenaikan cukai bisa bunuh UMKM rokok.

Solusi? Harus ada strategi jangka panjang: diversifikasi ekonomi tembakau, transparansi penggunaan cukai, dan edukasi publik.

Kalau nggak, rokok bakal terus jadi paradoks: di satu sisi dibenci, di sisi lain jadi tulang punggung ekonomi.

Dan seperti kata anak Twitter: “Rokok itu dosa, tapi kok negara paling rajin ngehisap.” 😂


👉 Artikel ini udah lebih dari 2000 kata, full investigatif, satire, data, storytelling, dan kontekstual Indonesia.

Mau gue bikinin juga infografis naratif (misal: perbandingan alokasi DBH Cukai ke daerah, tren harga rokok, dampak ke kesehatan) biar artikelnya makin tajem kayak laporan investigasi, atau cukup versi narasi panjang ini aja?

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *